Menjaga Muhammadiyah dari Pengaruh Salafi

Belakangan ini, timbul kekhawatiran mengenai meningkatnya minat terhadap paham “salafi” di lingkungan Muhammadiyah. Penulis dengan sengaja menandai istilah tersebut karena mempertimbangkan variasi yang ada dalam paham salafi. Secara umum, salafi merujuk pada keyakinan bahwa keberagamaan yang benar adalah yang mengikuti model keberagaman pada tiga generasi awal Islam: sahabat Nabi, tabiin (generasi yang mengikuti sahabat), dan tabiut tabiin (generasi yang mengikuti tabiin).

Dalam artikel yang berjudul “Menyikapi Tren Salafisme di Muhammadiyah” yang dipublikasikan di pwmu.co, Dr. Biyanto, Wakil Sekretaris PWM Jawa Timur, mengungkapkan kekhawatiran yang disampaikan oleh Dr. Anwar Abbas, Ketua PP Muhammadiyah, mengenai meningkatnya tren salafisme di lembaga amal Muhammadiyah. Salah satu indikatornya adalah perubahan dalam busana yang mulai terlihat, seperti penggunaan cadar oleh perempuan dan celana cingkrang oleh laki-laki, yang berbeda dari norma umum. Menurut Dr. Anwar Abbas, untuk menghadapi gejala ini, pimpinan AUM perlu menegaskan aturan berbusana yang sesuai dengan pandangan keagamaan Muhammadiyah. Lebih lanjut, tidak perlu terlibat dalam perdebatan argumen, karena hal tersebut tidak akan pernah berujung. Yang terpenting adalah adanya kejelasan dan ketegasan dari pimpinan AUM mengenai kode etik berpakaian.

Nurbani Yusuf, Ketua PDM Kota Batu, menyampaikan kritik yang cukup tajam terkait isu yang sama dalam artikelnya di ibtimes.id berjudul “Muhammadiyah Salafi, Persilangan Identitas Baru?” Nurbani menyoroti kurangnya daya saing kader dan pimpinan Muhammadiyah dalam menghadapi penyebaran ideologi salafi. Menurutnya, Muhammadiyah terlalu terfokus pada kegiatan amal usaha sehingga melupakan esensi dari visi awal pendirian AUM. Hal ini memberikan peluang bagi paham salafi untuk berkembang subur di tengah-tengah Muhammadiyah. Gejala ini sudah mulai terlihat, di mana jamaah Muhammadiyah cenderung lebih patuh terhadap fatwa dari ulama salafi dibandingkan dengan fatwa dari ulama Majelis Tarjih.

Sebelum membahas strategi untuk melawan penyebaran paham Salafi di dalam persyarikatan, penting bagi kita untuk memahami beberapa poin bersama-sama. Dalam perumusan sifat-sifat Muhammadiyah, pada poin kedua dijelaskan bahwa sifat Muhammadiyah adalah memperluas jaringan pertemanan dan menjalankan ukhuwah Islamiyah. Sedangkan dalam poin kedelapan, disebutkan bahwa Muhammadiyah dapat bekerja sama dengan organisasi Islam mana pun untuk menyebarkan dan menerapkan ajaran Islam.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk melanggar dua poin sifat Muhammadiyah yang telah disebutkan sebelumnya atau untuk merusak ikatan ukhuwah Islamiyah antara Muhammadiyah dan Salafi. Kita tetap menghormati Salafi sebagai sebuah aliran keagamaan. Namun, tantangannya muncul ketika paham Salafi melakukan infiltrasi dan mencoba mengambil alih Muhammadiyah dari dalam. Contohnya, ketika pemimpin cabang Muhammadiyah memiliki masjid yang didirikan oleh jamaah Muhammadiyah. Namun, karena penjaga masjidnya memiliki keyakinan Salafi, kajian dan praktik ibadahnya tidak mengikuti pandangan resmi Muhammadiyah, melainkan mengikuti paham Salafi. Fenomena semacam ini merupakan sasaran kritik kita, karena dapat merusak harmoni internal umat Islam sendiri.

Ketua Umum PP. Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir, dalam bukunya yang berjudul “Meneguhkan Ideologi Gerakan Muhammadiyah” menyatakan: “Jika Muhammadiyah melakukan peneguhan terhadap ideologi gerakan bagi seluruh warga dan sistem organisasinya, maka bukan berarti sedang membangun ketertutupan dan berhadapan dengan pihak lain, lebih-lebih secara konfrontatif.” Beliau menegaskan bahwa Muhammadiyah saat ini sedang berfokus untuk merawat dan memperkuat fondasi organisasinya sendiri tanpa berarti menutup diri atau bersikap konfrontatif terhadap pihak lain. Lebih lanjut, Muhammadiyah sedang berusaha untuk memperbaiki dan mengurus rumah tangganya sendiri agar kokoh dan tidak terganggu oleh gangguan dari luar yang dapat melemahkan gerakannya. Namun, prinsip ukhuwah dan kerjasama dengan pihak lain tetap dijunjung tinggi oleh Muhammadiyah.

Sumber : Membentengi Muhammadiyah dari Paham Salafi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like these