Pengajian Padang Bulan ke-26 PCM Banguntapan Selatan Tekankan Ketenangan Hati dan Harmoni Keluarga

Bantul — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Banguntapan Selatan kembali menggelar Pengajian Padang Bulan ke-26 pada Senin (11/8/2025) malam atau 17 Safar 1447 H di Pendopo Masjid KH Ahmad Dahlan, Jalan Pleret Km 1,3 Bukduwur, Potorono, Banguntapan, Bantul. Acara ini menghadirkan penceramah Ustadz H. Sutarjo S.Ag., M.A., Wakil Ketua 3 PCM Patuk, Gunungkidul.

Ketua PCM Banguntapan Selatan, Ust. Aris Abdullah, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada para tamu undangan, di antaranya Lurah Potorono, Ketua Pimpinan Cabang Aisyiyah Banguntapan Selatan Ibu Juhoiriah, para pewakaf lingkungan Masjid KH Ahmad Dahlan, serta jamaah dari seluruh ranting se-Banguntapan Selatan. Ia juga mengumumkan bahwa Pengajian Ahad Pon berikutnya akan diselenggarakan pada 24 Agustus 2025 di Joglo Potorono oleh PRM Potorono Utara, sekaligus menjadi ajang penggalangan dana.

Dalam ceramahnya, Ust. Sutarjo mengawali dengan pembacaan empat kalimat thayyibahSubhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar — serta Astaghfirullah. Menurutnya, zikir ini dapat menumbuhkan kesadaran akan pengawasan Allah dan memberikan ketenangan hati. Ia menegaskan bahwa kunci ketenangan hati adalah menghindari sifat iri terhadap kehidupan orang lain, dan meneladani kesabaran orang kecil yang berusaha hidup benar meski sering menghadapi ketidakadilan, sebagaimana kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Yusuf.

Ust. Sutarjo juga menyoroti prinsip penting dalam membangun keluarga, yaitu:

1. Sakinah – kedamaian dan kerukunan yang diawali keterbukaan dan saling percaya antara suami-istri.
2. Mawaddah – cinta yang melahirkan semangat dan keindahan.
3. Rahmah – ridha dan syukur kepada Allah atas nikmat yang tak terhitung, termasuk nikmat sehat, rukun, iman, Islam, ihsan, dan takwa.

Ia menekankan pentingnya menjaga lisan, khususnya peran seorang istri dalam menenteramkan keluarga, serta kewajiban suami untuk mengayomi. Menyambut momentum kemerdekaan, beliau mengajak jamaah meneladani semangat juang Jenderal Sudirman dan Pangeran Diponegoro yang berjuang dengan keterbatasan, serta perjuangan Nabi Muhammad SAW sebagaimana termaktub dalam QS Al-Fath ayat 29 — berjuang hanya demi ridha Allah.

Sebagai penutup, Ust. Sutarjo mengingatkan bahwa Nabi Muhammad diangkat menjadi nabi pada usia 40 tahun dan menjadi teladan bagi umat. Ia mengajak jamaah untuk mewariskan kepada keturunan sifat-sifat mulia Nabi, berupa ilmu, akhlak, doa, kelembutan, ibadah, dan usaha mencari rezeki yang halal. Acara diakhiri dengan doa bersama.

You may also like these