Banguntapan, Bantul – Majelis Pendidikan Kader (MPK) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Banguntapan Selatan kembali menggelar Kajian KaderMU pada hari ini dengan mengangkat tema “Membumikan Islam Berkemajuan di Kancah Global.”
Acara dibuka dengan sambutan oleh Ustadz Dr. Aris Abdullah, M.Si. selaku perwakilan PCM Banguntapan Selatan. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya merutinkan kajian semacam ini sebagai sarana mempererat ukhuwah serta mendorong keaktifan kader Muhammadiyah, khususnya yang bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), untuk lebih terlibat dalam kehidupan persyarikatan.
Selain itu, Ustadz Aris juga menginformasikan bahwa setelah pengajian, peserta dapat memperoleh surat keterangan aktif Muhammadiyah yang akan disampaikan oleh panitia.
Kajian utama disampaikan oleh Ustadz Waluyo Adi Siswanto yang mengangkat tema tentang Pengalaman Muhammadiyah Mengelola AUM di Malaysia. Dalam paparannya, beliau menyampaikan sejumlah poin penting terkait sejarah dan tantangan pendirian Universitas Muhammadiyah Malaysia (UMAM), di antaranya:
1. Sebagian besar staf UMAM berasal dari kalangan Melayu Malaysia, dengan dukungan dosen dari UAD, UMS, dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) lainnya.
2. Pada 8 Februari 2017, Muhammadiyah mendirikan perusahaan sebagai syarat administratif dalam mendirikan universitas di Malaysia.
3. Tonggak sejarah ditandai pada tahun 2019 dengan penandatanganan MoU antara Muhammadiyah dan Kerajaan Perlis untuk penyediaan lahan kampus.
4. Muhammadiyah sempat menghadapi tantangan berupa sentimen negatif dari sebagian masyarakat Malaysia yang menganggap Muhammadiyah identik dengan paham Wahabi.
5. Sultan Johor menolak kehadiran Muhammadiyah, sementara hanya Raja Perlis yang mendukung pendirian universitas ini.
6. Pada Agustus 2021, Muhammadiyah resmi mendapatkan izin mendirikan Universitas Muhammadiyah Malaysia.
7. Kemudian pada November 2023, UMAM memperoleh lisensi sebagai Institusi Perguruan Tinggi Swasta resmi di Malaysia.
8. Keberhasilan UMAM dibuktikan dengan diterimanya satu mahasiswa non-Muslim keturunan Tionghoa Malaysia serta keberhasilan artikel mahasiswa UMAM terindeks di Scopus.
9. Uniknya, praktik ibadah di lingkungan Kerajaan Perlis Malaysia memiliki banyak kesamaan dengan amalan ibadah yang dianut oleh Muhammadiyah.
Kajian ini menjadi refleksi penting bahwa gerakan Islam berkemajuan dapat diterima di tingkat global dengan pendekatan yang inklusif, profesional, dan menjunjung tinggi nilai keilmuan.