Pengajian Ketarjihan ke-22 PDM Bantul: Teguhkan Semangat Kebangsaan

Bantul – Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bantul kembali menyelenggarakan pengajian ketarjihan rutin pada Selasa (5/8/2025). Pengajian yang memasuki putaran ke-22 ini diadakan di Masjid Ahmad Dahlan, Banguntapan Selatan, dengan menghadirkan Ustadz H. Suwandi Danu Subroto, Wakil Ketua PDM Bantul, sebagai pemateri utama.

Acara diawali sambutan dari Ketua PCM Banguntapan Selatan, Ustadz Aris Abdullah, dan dihadiri oleh jajaran pengurus Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Bantul, pengurus PCM Pleret, PCM Piyungan, PCM Banguntapan Utara, serta 12 majelis dan 6 bidang dari PCM Banguntapan Selatan. Tak ketinggalan, pimpinan PCA Banguntapan Selatan dan pimpinan ranting Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Banguntapan Selatan juga turut hadir.

Mengangkat tema “Indonesia sebagai Darul Ahdi wa Syahadah”, Ustadz Danu menekankan bahwa pengajian ini bukan hanya sebagai kegiatan seremonial di bulan Agustus, tetapi seharusnya menjadi momentum untuk melanjutkan semangat kebangsaan dan penguatan komitmen sebagai warga Muhammadiyah sekaligus warga negara Indonesia.

“Allah menjadikan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Saling mengenal bukan hanya mengetahui nama, tetapi juga saling menerima dan memberi dalam kemajemukan, sehingga tercipta bangsa yang kokoh,” ujar Ustadz Danu dalam ceramahnya.

Ia menegaskan bahwa Indonesia merupakan contoh bangsa yang gigih berjuang meraih kemerdekaan, sebagaimana spirit perjuangan yang diajarkan dalam kisah-kisah para nabi dan rasul dalam Al-Qur’an, khususnya dalam surat Hud ayat 120 yang menyampaikan bahwa kisah para rasul di masa lalu dihadirkan untuk meneguhkan hati dan keimanan.

Lebih lanjut, Ustadz Danu menjelaskan bahwa Darul Ahdi bermakna negara yang dibangun atas dasar kesepakatan seluruh elemen bangsa, tanpa membeda-bedakan agama atau status sosial. Konsep ini menjadi dasar wawasan kebangsaan untuk memperkuat persatuan dan saling melengkapi satu sama lain. Hal ini juga menjadi ruh perjuangan Muhammadiyah yang tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi juga diwujudkan melalui kontribusi nyata seperti mendirikan sekolah, rumah sakit, dan berbagai amal usaha lainnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya konsep Darul Ahdi wa Syahadah untuk menjaga harmonisasi kebangsaan, apalagi di tengah tantangan bangsa pasca kemerdekaan yang masih kerap mengalami intervensi asing. “Inilah bentuk persaksian kita sebagai anggota Muhammadiyah untuk menjaga keutuhan bangsa,” tegasnya.

Menutup ceramah, Ustadz Danu mengimbau agar warga Muhammadiyah dalam berdakwah senantiasa menjauhi konflik dengan organisasi masyarakat sejenis, melainkan justru memperkuat kolaborasi dengan ormas-ormas yang memiliki semangat dakwah serupa. “Muhammadiyah tidak pernah berkeinginan mendirikan negara, tetapi berkomitmen untuk bersama-sama memajukan Indonesia,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like these