PaBu#25: Sambut Tahun Baru Islam dengan Semangat Hijrah dan Kepedulian Sosial

Banguntapan, Bantul — Pengajian Padang Bulan edisi ke-25 kembali digelar pada Rabu malam, 15 Muharram 1447 H atau 9 Juli 2025, bertempat di Pendopo MBS Masjid KH Ahmad Dahlan, Jl. Pleret Km 1,5, Buk Duwur, Potorono. Kegiatan yang dimulai pukul 19.45 WIB ini menghadirkan Ustadz Mahmud Khoirul Amin, seorang motivator yang dikenal dengan ceramah-ceramahnya yang inspiratif dan membangkitkan semangat spiritual.

Acara diawali dengan sambutan dari perwakilan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Banguntapan Selatan, Drs. Wakijo. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan rasa syukur atas kemajuan Masjid KH Ahmad Dahlan yang semakin berkembang, baik dari sisi bangunan maupun keaktifan jamaahnya. Salah satu wujud kemajuan tersebut adalah keberhasilan masjid dalam melunasi hutang para jamaah melalui penyaluran zakat untuk kelompok ghorim—mereka yang memiliki utang dan tidak mampu membayarnya. Inisiatif ini menjadi bukti nyata semangat kepedulian sosial yang ditanamkan dalam ajaran Islam.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Khoirul Amin mengajak jamaah untuk memaknai tahun baru Islam sebagai momentum hijrah, yakni berpindah dari keburukan menuju kebaikan. Ia menegaskan bahwa setiap insan tak lepas dari kesalahan, namun sebaik-baiknya manusia adalah yang segera bertaubat dan memperbaiki diri.

Beliau memulai ceramahnya dengan kisah inspiratif tentang Imam Ahmad bin Hanbal yang melakukan perjalanan tanpa tujuan tertentu ke Basrah (Irak) dan mengalami pengalaman spiritual bertemu dengan seorang penjual roti yang istiqamah beristighfar. Penjual roti itu selalu memanjatkan doa agar dipertemukan dengan Imam Ahmad sebelum meninggal—dan Allah mengabulkannya. Kisah ini menjadi pengingat bahwa istighfar dan doa yang tulus dapat membuka pintu keajaiban.

Ustadz Khoirul juga mengisahkan tentang Imam At-Tirmidzi, seorang perawi hadits terkenal, yang di akhir hayatnya masih merasa khawatir amalnya belum cukup untuk masuk surga. Dari kisah ini, ia mengajak jamaah untuk bersikap seperti seorang musafir, “ghoriban”, yang hanya singgah sementara di dunia dan mematuhi aturan Sang Pemilik alam—Allah SWT.

Beliau juga menyampaikan bahwa rezeki manusia sejatinya hanya terdiri dari tiga hal: yang dimakan dan diminum, yang dipakai dan kemudian usang, serta yang diinfakkan di jalan Allah. “Dunia ini hanya tempat singgah. Jangan sampai kita terbuai oleh gemerlap dunia hingga lupa tujuan utama: surga,” tegasnya.

Dalam penutup ceramahnya, Ustadz Khoirul menyampaikan analogi tentang seorang penyelam yang terlalu terpukau oleh keindahan bawah laut hingga lupa mengambil mutiara yang menjadi tujuan awalnya. Begitu pula manusia yang sering terlena oleh kesenangan duniawi, namun melupakan ibadah sebagai tujuan hidup yang hakiki.

Pengajian berlangsung khidmat dan ditutup dengan doa bersama, meneguhkan semangat jamaah untuk menjadikan tahun baru Islam sebagai titik awal perubahan diri, memperbanyak amal, serta mempererat hubungan dengan Allah SWT.

Kontributor: Aditya A

You may also like these