Upgrading Mubalig Muhammadiyah Banguntapan Selatan: Perkuat Dakwah Inklusif di Tengah Masyarakat Heterogen
Bantul — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Banguntapan Selatan terus memperkuat kualitas dakwah di tingkat akar rumput. Pada Jumat malam, 7 Februari 2026, PCM Banguntapan Selatan menggelar Upgrading Mubalig Muhammadiyah, sebuah forum strategis untuk meningkatkan kapasitas mubalig agar mampu berdakwah secara bijak, inklusif, dan kontekstual di tengah masyarakat yang semakin heterogen.
Kegiatan ini menjadi respons atas tantangan dakwah kontemporer yang tidak lagi sederhana. Perbedaan latar belakang sosial, budaya, dan pemahaman keagamaan menuntut mubalig Muhammadiyah memiliki kedalaman ilmu, keluasan perspektif, serta kecakapan sosial dalam menyampaikan pesan Islam berkemajuan.
Ketua PCM Banguntapan Selatan, Dr. Aris, dalam sambutannya menekankan pentingnya penguasaan fikih ikhtilaf bagi para mubalig. Menurutnya, pemahaman terhadap perbedaan pendapat dalam Islam menjadi kunci agar dakwah tidak terjebak pada sikap saling menyalahkan.
“Seorang mubalig Muhammadiyah harus memahami fikih ikhtilaf, agar tidak mudah menghakimi dan menyalahkan pihak lain. Dakwah harus menenangkan, bukan memecah-belah,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Ayif, Sekretaris PCM Banguntapan Selatan, menegaskan bahwa Muhammadiyah sejatinya adalah gerakan dakwah. Karena itu, setiap kader Muhammadiyah pada hakikatnya adalah dai.
“Jika kita bermuhammadiyah, sejatinya kita sedang berdakwah. Dakwah Muhammadiyah tidak hanya mengandalkan ilmu dan figur, tetapi juga sistem yang terorganisasi,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa medan dakwah Muhammadiyah jauh melampaui mimbar keagamaan. Dakwah juga menyentuh aspek kemanusiaan secara menyeluruh—pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
“Dakwah Muhammadiyah yang paling terasa di tengah masyarakat adalah dakwah bil hal. Kita mendirikan sekolah, rumah sakit, dan lembaga sosial sebagai wujud nyata Islam yang mencerahkan,” lanjutnya.

Upgrading mubalig ini menghadirkan sejumlah narasumber yang kompeten di bidangnya. Ust. Drs. Wakijo memaparkan pemetaan peluang dan tantangan dakwah Muhammadiyah di wilayah Banguntapan Selatan, dengan menekankan pentingnya pendekatan kontekstual sesuai karakter masyarakat setempat.
Sementara itu, Ust. Dr. Yoyo, dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD), memberikan penguatan terkait Manhaj Tarjih dan Pemikiran Islam Muhammadiyah, sebagai fondasi ideologis agar mubalig tetap kokoh dalam prinsip, namun luwes dalam metode.
Materi ditutup oleh Ust. Dr. Yayan Suryana, Wakil Ketua PWM DIY bidang Tarjih, yang memberikan perspektif strategis tentang peran tarjih dalam merespons dinamika keislaman dan kebangsaan secara berkemajuan.
Sebagai hasil konkret dari kegiatan ini, PCM Banguntapan Selatan secara resmi membentuk Korps Mubalig Muhammadiyah Milenial, yang diharapkan menjadi garda depan dakwah Muhammadiyah di kalangan generasi muda. Korps ini dipimpin oleh Ust. Dimas, M.Pd, yang akan mengoordinasikan gerakan dakwah berbasis masjid, komunitas, dan ruang-ruang sosial lainnya.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, PCM Banguntapan Selatan menegaskan komitmennya untuk menghadirkan dakwah Muhammadiyah yang inklusif, solutif, dan membumi, sejalan dengan semangat Islam berkemajuan yang menjadi ruh gerakan Muhammadiyah sejak awal berdirinya.