PaBu#33 Rajut Solidaritas Bencana dan Keteladanan Nabi

BANTUL — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam Pengajian Padang Bulan #38 tidak sekadar menjadi momen spiritual di atas mimbar. Lebih dari itu, pengajian yang digelar oleh PCM Banguntapan Selatan pada Ahad (30/8/2026) malam di Pendopo MBS Masjid KH Ahmad Dahlan ini menjelma menjadi ruang konsolidasi kepedulian sosial untuk membantu masyarakat terdampak bencana alam.

Dipandu langsung oleh penceramah utama, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) D.I. Yogyakarta, Ustadz Dr. M. Ikhwan Ahada, M.A., acara yang dimulai pukul 19.45 WIB di Jalan Pleret Km 1,3 Buk Duwur, Banguntapan, Bantul tersebut berlangsung hangat dan penuh suasana kebersamaan.

Dari Pengajian Menuju Gerakan Kepedulian

Dalam sambutannya, Aris Abdullah (Ketua PCM Banguntapan Selatan) mengajak jamaah untuk tidak berhenti pada kegiatan pengajian semata, tetapi juga menerjemahkan nilai-nilai agama ke dalam bentuk kepedulian nyata kepada sesama.Ia menyampaikan tindak lanjut instruksi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Bantul terkait penggalangan dana untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana alam. PDM menginstruksikan 20 PCM se-Kabupaten Bantul untuk ikut bergerak, termasuk PCM Banguntapan Selatan bersama tujuh Ranting Muhammadiyah di wilayahnya.

Masjid-masjid di lingkungan PCM Banguntapan Selatan juga didorong untuk melakukan penggalangan dana pada pekan pertama dan kedua. Gerakan ini diharapkan menjadi bentuk solidaritas bersama sekaligus pengingat bahwa dakwah tidak hanya hadir melalui mimbar, tetapi juga melalui kepedulian dan tindakan nyata saat masyarakat membutuhkan. Selain itu, Aris menyampaikan sejumlah agenda mendatang. Tabligh Akbar rencananya akan digelar pada Ahad, 13 September 2026 di Jambidan Timur. Setelah itu, akan dilaksanakan pengajian gabungan bersama PCM Banguntapan Utara pada Oktober mendatang. Muhammadiyah Banguntapan Selatan juga tengah menyiapkan kegiatan WisataMu dan ziarah tokoh Muhammadiyah sebagai ruang untuk mempererat silaturahmi sekaligus mengenal lebih dekat sejarah serta perjuangan para tokoh persyarikatan.

Nabi Muhammad SAW, Nikmat Terbesar bagi Umat Islam

Memasuki sesi utama, Ustadz Ikhwan Ahada mengajak jamaah memaknai Maulid Nabi dari sudut pandang rasa syukur. Tema yang diusung, “Meneladani Nabi Muhammad sebagai Nikmat dari Allah bagi Umat Islam”, mengingatkan kembali bahwa kehadiran Rasulullah SAW merupakan salah satu rahmat terbesar yang diberikan Allah kepada umat manusia. Mengawali ceramahnya, Ustadz Ikhwan mengingatkan pentingnya menaati Rasulullah SAW. Menurutnya, orang yang berusaha mengikuti kehidupan dan perilaku Nabi pada dasarnya sedang berusaha menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.

Umat Islam, jelas beliau, memiliki begitu banyak nikmat yang sering kali terlupakan. Ada nikmat iman, Islam, Al-Qur’an sebagai petunjuk, dan yang tidak kalah penting adalah diutusnya Nabi Muhammad SAW yang memberikan teladan secara langsung mengenai bagaimana ajaran Al-Qur’an dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau kita ingin tahu bagaimana Manusia Al-Qur’an, lihatlah kehidupan Nabi Muhammad,” pesan mendalam yang disampaikan Ustadz Ikhwan dalam ceramahnya. Rasulullah SAW digambarkan sebagai manusia terbaik dengan akhlak yang mencerminkan isi Al-Qur’an. Beliau dikenal sebagai pribadi yang ringan tangan dalam bersedekah, banyak beristighfar, murah senyum, dan memiliki perhatian besar terhadap ibadah.

Ustadz Ikhwan turut mengajak jamaah untuk mengenal Nabi secara lebih dekat. Kecintaan kepada Rasulullah akan semakin tumbuh ketika umat mau membaca dan mempelajari kehidupan beliau. Oleh karena itu, jamaah didorong untuk rajin menuntut ilmu, membaca Al-Qur’an, serta mempelajari hadis dan sirah Nabi Muhammad SAW. Beberapa kitab/bacaan seperti Syamail Muhammadiyah dan Ar-Rahiq Al-Makhtum dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal keseharian Rasulullah, mulai dari kehidupan pribadi, ibadah, keluarga, hingga perannya sebagai pemimpin dan uswatun hasanah bagi umat Islam.

Di penghujung ceramah, Ustadz Ikhwan mengingatkan bahwa mencintai Nabi tidak cukup hanya dengan banyak menyebut nama beliau. Kecintaan itu perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap jujur, tepo seliro (tenggang rasa), andap asor (rendah hati), kemurahan hati, serta kesediaan untuk terus memperbaiki diri.

Dengan demikian, peringatan Maulid Nabi bukan sekadar tentang mengenang kelahiran Rasulullah SAW. Lebih dari itu, momen ini menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk merefleksikan diri: sudah sejauh mana akhlak dan kehidupan kita mengikuti teladan Nabi?

You may also like these